Connect with us

Sports

Ibnu Minta Kepolisian Sikat Mafia Bola yang Berlindung PSSI

Published

on

Ibnu Minta Kepolisian RI Sikat Terus Mafia Bola yang Berlindung PSSI

JanoerKoening, Jakarta – Ketua Forum Pecinta Sepakbola Indonesia (FPSI) Ibnu Zakaria Saka membeberkan skandal adanya dugaan pengaturan skor yang melanda Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) yang telah diselidiki oleh Kepolisian Republik Indonesia saat ditemui media ini gedung dewan pers, Jakarta Pusat, pada (18/01/2019).

“sudah bagaikan Kanker stadium 5 ditubuh PSSI, karena sudah sangat berakar pengaturan skor dimulai dari liga 3, liga 2 bahkan ada indikasi pengaturan skor sudah masuk di liga 1,” ujar Ibnu ZS.

Ia menjelaskan, dari 1 bulan yang lalu Kepolisian Republik Indonesia sudah melakukan penangkapan kepada 4 orang dan satu sudah dijadikan tersangka.

“Satgas yang dibentuk langsung oleh Kapolri mendapat sambutan yang antusias dari masyarakat Indonesia yang sudah mendambakan sepak bola Indonesia bersih dari mafia-mafia bola,” ucap Ibnu ZS.

inilah, kata dia, bentuk perlindungan yang diberikan oleh para petinggi PSSI bagi para mafia-mafia bola yang mengatur skor pertandingan,” katanya.

Ibnu dan juga seluruh masyarakat pecinta bola hanya bisa mendengar desas-desus saja tentang mafia-mafia pengaturan skor. Namun sekarang desas-desus ini sudah bisa terlihat karena baru sebulan saja satgas Anti Mafia Bola, Kepolisian Republik Indonesia sudah bisa membongkar praktik mafia pengaturan skor dan menangkap 4 orang dan satu orang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” terang Ibnu ZS.

“Ini adalah bukti bahwa didalam tubuh PSSI sudah terjangkit penyakit kanker dan sangat sulit untuk disembuhkan karena hampir semua bagian tubuh sudah terinfeksi, disini seharusnya Ketua Umum hadir menerangkan kepada masyarakat apa yang sesungguhnya terjadi, bahkan kalau perlu mengundurkan diri sebagai Ketua Umum dan diikuti oleh Sekjen serta Bendahara Umum,” ungkapnya.

Ibnu juga menjelaskan, dalam Kongres tahunan yang direncanakan pada bulan ini bertempat di Bali, “saya sangat berharap kepada klub-klub, pengurus propinsi agar berani menyuarakan dan bergerak menuju Revolusi Total PSSI karena inilah obat kanker yang ampuh agar kedepannya PSSI lebih apik dan professional mengurus sepak bola Indonesia,” beber Ibnu ZS.

“Dan kepada Kepolisian Republik sikat terus mafia-mafia bola yang berlindung di PSSI jangan takut karena masyarakat Indonesia selalu bersama Polisi,” tutupnya. (Ary)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Sports

#EdyOut Menang, Adakah Revolusi di Tubuh PSSI?

Published

on

By

Setelah Petisi #EdyOut Menang, Adakah Revolusi di Tubuh PSSI?

JanoerKoening, Jakarta – Masyarakat menyambut gembira atas pemyataan Edy Rahmayadi yang memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI pada hari Minggu, 20 Januari 2019 Ialu.

Salah satunya Emerson Yuntho, penggagas petisi “Edy Harus Mundur sebagai Ketua Umum PSSI” (www.change.org/edyout). Petisi dimulai sejak enam bulan lalu di laman change.org setelah Edy menang dalam pemilihan Kepala Daerah di Sumatera Utara (Sumut). Hingga hari ini, petisinya telah ditandatangani oleh Iebih dari 135 ribu orang.

Dalam jumpa pers di kekini, Cikini, Jakarta, Kamis 24 Januari 2019, Emerson menjelasakan, desakan mundur ini didasarkan oleh tiga alasan, yakni:

Pertama, Edy seharusnya fokus terhadap satu jabatan saja, dalam hal ini sebagai pemimpin Sumut selama lima tahun ke depan. Jika Edy merangkap dua jabatan, dikhawatirkan akan menimbulkan fokus bercabang.

Kedua, adanya regulasi yang melarang Kepala Daerah merangkap jabatan sebagai pengurus PSSI. Larangan ini diatur dalam Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 800/148/sj 2012 tanggal 17 Januari 2012 tentang Larangan Perangkapan Jabatan Kepala Daerah dan/atau Wakil Kepala Daerah pada Kepengurusan KONI, PSSI, Klub Sepakbola Profesional dan Amatir, serta Jabatan Publik dan Jabatan Struktural.

Alasan yang ketiga, adanya kekhawatiran timbulnya konflik kepentingan jika Edy merangkap sebagai Ketua Umum PSSI sekaligus duduk dalam posisi pemerintahan. Kami tidak ingin PSSI hanya dijadikan kendaraan tanpa ada kemauan untuk menjalankannya apalagi hanya dijadikan bemper untuk kepentingan selama menjabat sebagai gubemur Sumut.

“Semua tentu tak mengharapkan ada pimpinan yang menganak emaskan satu klub saja,” tulis Emerson dalam petisinya.

Ignatius Indro, Ketua Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI), mengatakan bahwa sebagai organisasi suporter, PSTI mengapresiasi keputusan Edy untuk mundur.

“Kritik dari masyarakat yang dilakukan melalui Change.org bukan bersifat personal tapi ini adalah wujud kepedulian masyarakat terhadap dunia persepakbolaan Indonesia. Dengan mundumya Edy, jelas menunjukan bahwa PSSI ada masalah dan ini harus diselesaikan tidak hanya oleh internal PSSI saja tetapi juga oleh seluruh stakeholder sepak bola lndonesia,” tambahnya.

Indo juga mengatakan “Mundumya Edy bukan berarti pekerjaan kita selesai, namun harus semakin keras dalam membongkar semua mafia sepakbola termasuk yang masih bercokol di PSSI.”

Sementara itu, Peneliti hukum olahraga Eko Noer Kristiyanto memiliki pandangan yang berbeda. Menurutnya, persoalannya bukan tentang kapasitas Edy sebagai pemimpin, karena baginya kepemimpinan Edy teruji melalui karir militernya.

“Sejujurnya kehadiran Edy selama ini justru sempat membuat kagok para pemain Iama karena Edy memang bukan orang yang gampang dikendalikan apalagi di-setting. Itulah sebabnya dalam berbagai diskusi terkait match fixing, saya seIaIu menolak jika sasaran akhirnya adalah suksesi ketua umum PSSI,” ujar Eko.

Karena masalah laten ada jauh sebelum Edy menjabat Ketua Umum PSSI. Terlebih Edy berulang kali menyatakan dukungan agar satgas anti mafia bola masuk dan bekerja walau harus menyentuh orang-orang dalam PSSI,” tambahnya. (Ary)

Continue Reading

Trending